BISNISTANGERANG.COM –– Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Tangerang mengalami kekosongan stok bahan bakar minyak (BBM) sejak Selasa, 16 September 2025. Hingga Kamis, 18 September 2025 sore, kondisi ini kian belum membaik. Situasi tersebut membuat masyarakat resah karena kesulitan mendapatkan pasokan bahan bakar untuk kendaraan mereka.
Pantauan di lapangan menunjukkan kekosongan BBM terjadi di sejumlah SPBU di kawasan Jalan Otista, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang. Di SPBU Shell, BBM jenis Super dan V-Power Nitro+ sudah tidak tersedia, hanya tersisa stok V-Power Diesel. Sementara itu, SPBU Vivo juga mengalami hal serupa. Jenis Revvo 90 habis sejak Rabu, meski Revvo 92 dan Revvo 95 masih bisa dibeli konsumen.
Kondisi tersebut terlihat jelas ketika petugas SPBU beberapa kali memberi isyarat dengan menyilangkan tangan kepada pengendara yang datang. Tanda tersebut menunjukkan bahwa BBM yang dicari sudah habis. Situasi ini memaksa banyak pengendara untuk mencari alternatif lain agar tetap dapat menggunakan kendaraan mereka dalam beraktivitas sehari-hari.
Salah seorang pelanggan SPBU Shell, Rudi (37), mengaku sangat kecewa dengan kondisi ini. Ia mengatakan sejak Selasa hingga Kamis sore, dirinya tidak berhasil mendapatkan BBM di SPBU langganannya.
“Iya, tadi pas saya mau isi ternyata habis. Setahu saya baru dari kemarin kosong. Jadi sekarang saya terpaksa beli bensin eceran di warung Madura,” ujar Rudi kepada Lensa Banten, Kamis, 18 September 2025.
Meski begitu, Rudi mengaku khawatir dengan kualitas BBM eceran yang dijual bebas di warung. Ia merasa tidak punya pilihan lain selain membeli di tempat tersebut.
“Saya takut ada oplosan, karena pernah kejadian ada oplosan kan, kalau ga salah. Jadi lebih baik Shell, lebih percaya. Tapi kalau habis begini, terpaksa cari ke warung pinggiran. Terbukti kalau di warung kan ada botolnya, kelihatan tidak ada oplosan. Kalau di Pertamina juga kadang antre panjang,” tambahnya.
Keluhan seperti yang dialami Rudi juga dirasakan oleh banyak pengendara lain. Mereka mengaku terganggu dengan kondisi ini, apalagi kelangkaan BBM terjadi pada jam-jam sibuk ketika kebutuhan masyarakat untuk mengisi bahan bakar sangat tinggi.
Menanggapi persoalan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa pemerintah telah menambah kuota impor BBM sebesar 10 persen. Dengan begitu, total kuota impor kini mencapai 110 persen. Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah antisipasi untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan energi di dalam negeri.
Bahlil juga menegaskan bahwa SPBU swasta yang mengalami kekosongan stok tidak boleh membiarkan masalah ini berlangsung lama. Ia mendorong operator SPBU swasta untuk segera menjalin kerja sama dengan PT Pertamina dalam memastikan ketersediaan pasokan BBM bagi masyarakat.
“Kalau memang stok dari merekanya habis, SPBU swasta bisa bekerja sama membeli BBM di Pertamina. Jangan sampai masyarakat yang dirugikan,” kata Bahlil.
Kasus kelangkaan BBM di Kota Tangerang ini menjadi peringatan serius bahwa pasokan energi masih sangat rentan, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki mobilitas tinggi.
Konsumen berharap pemerintah bersama operator SPBU segera menemukan solusi permanen agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi, mengingat BBM merupakan kebutuhan vital yang sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Editor : Sakhiy
