BISNISTANGERANG.COM — Kawasan Kuliner Laksa yang berlokasi di Jl. Muhammad Yamin No.13, Kecamatan Babakan, Kota Tangerang, dulunya dikenal sebagai pusat kuliner khas daerah yang ramai dikunjungi wisatawan dan masyarakat. Namun kini, suasana yang dulu semarak itu sudah tidak terlihat lagi. Sejak pandemi Covid-19, kawasan ini semakin sepi dan omset pedagang anjlok hingga 75 persen.
Bang Tubing, salah satu pedagang laksa yang sudah berjualan lebih dari 25 tahun, menceritakan betapa sulitnya kondisi yang ia hadapi bersama pedagang lain. Ia mengaku prihatin karena jumlah pembeli yang datang sangat sedikit, bahkan sering kali tidak sebanding dengan jumlah pedagang yang ada.
“Untuk hari ini kondisinya sangat memprihatinkan, yang dagang banyak, tapi pembelinya hampir tidak ada,” ucapnya kepada para Jurnalis dengan nada kecewa. Senin, 29 September 2025.
Menurut Bang Tubing, di kawasan ini masih ada tujuh pedagang laksa yang bertahan. Namun, mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan karena penjualan sangat tidak menentu.
“Kalau hari biasa paling cuma 5–10 piring, itu pun dari pelanggan tetap. Kalau akhir pekan bisa agak lumayan, sampai 40 piring. Padahal dulu, sebelum sepi, sehari bisa sampai 160 piring. Itu pun di hari-hari biasa, karena dulu pembeli datang silih berganti, sampai kami melayani nyaris tanpa henti. Sekarang, jam 10 pagi saja sudah sepi, sementara dulu dari pagi sampai malam terus ramai,” jelasnya panjang lebar.
Ia juga menuturkan bahwa kondisi sepi ini mulai dirasakan sejak pandemi Covid-19. Awalnya, para pedagang yakin setelah pandemi usai, suasana akan kembali normal dan pembeli akan berdatangan lagi. Namun, harapan itu ternyata tidak terjadi.
“Dari musim Covid-19, setelah habis kirain bisa kembali lagi, eh malah turun jauh. Kami benar-benar tidak menyangka, karena biasanya kuliner laksa ini selalu dicari, apalagi kalau akhir pekan. Sekarang jangankan hari biasa, hari libur saja paling hanya sedikit lebih ramai, tidak seperti dulu,” ungkapnya.
Selain jumlah pembeli yang semakin berkurang, faktor lain yang membuat situasi semakin sulit adalah kondisi bangunan yang sudah tidak terawat. Menurut Bang Tubing, renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2016. Setelah itu tidak ada lagi perbaikan, sehingga fasilitas banyak yang rusak dan berdampak pada kenyamanan pengunjung.
“Renovasi terakhir itu tahun 2016, sampai sekarang belum ada lagi. Dampaknya banyak, atap bocor, tempat makin tidak nyaman. Kalau hujan, air bisa menetes ke mana-mana, sehingga orang makin enggan datang,” katanya.
Bang Tubing juga mengungkapkan bahwa pedagang kini harus menghadapi beban tambahan berupa biaya sewa lahan. Sejak 2024, setiap pedagang diwajibkan membayar Rp3,7 juta per tahun kepada Kemenkumham, dengan total biaya sekitar Rp40,7 juta untuk tujuh pedagang. Padahal, dari tahun 2010 hingga 2016, para pedagang tidak dikenakan biaya sewa sama sekali, hanya patungan kecil untuk perawatan lingkungan.
“Kalau lahan untuk saat ini kita bayar per tahun. Rp3,7 juta per orang, kalau ditotal sekitar Rp40,7 juta. Itu bayarnya ke Kemenkumham. Dulu dari 2010 sampai 2016 masih gratis, setelah itu kita patungan untuk perawatan. Baru tahun kemarin, 2024, kita kena charge resmi dari Kemenkumham untuk bayar tanah,” jelasnya.
Bagi Bang Tubing, kewajiban membayar sewa ini jelas sangat memberatkan, terlebih di tengah kondisi penghasilan yang menurun drastis. Namun, ia dan pedagang lain tetap berusaha bertahan karena tidak memiliki pilihan lain.
“Kalau bicara beban, ya jelas beban. Tapi kami bela-belain karena usaha kami cuma ini. Kami tidak punya keahlian lain. Contohnya dagang bakso saja, mungkin kami tidak bisa. Jadi, ya mau tidak mau harus dijalani meski keadaan berat,” tuturnya.
Meski merasa kecewa dengan minimnya perhatian pemerintah, Bang Tubing tetap berharap adanya solusi atau bantuan, baik dari pemerintah maupun sponsor, agar sentra kuliner ini kembali bangkit.
Editor : sakhiy
