BISNISTANGERANG.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang merilis tiga indikator utama perekonomian pada September 2025. Ketiganya mencakup inflasi bulanan, tingkat kemiskinan, dan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) triwulan kedua.
Kepala BPS Kota Tangerang, Muladi Widastomo, menjelaskan bahwa pada bulan September, Kota Tangerang justru mengalami deflasi. Kondisi ini terjadi setelah Pemerintah Kota Tangerang membebaskan biaya SPP bagi siswa SMA kelas 1.
“Kalau untuk inflasi bulanan sebetulnya kita tercatat deflasi, deflasi minus. Itu karena pada bulan September Pemkot melakukan bebas SPP untuk tingkat SLTA, SMA kelas 1,” jelasnya, kepada para Jurnalis saat ditemui di ruangnnya, Selasa, 7 Oktober 2025.
Meski terjadi deflasi bulanan, inflasi tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 1,96 persen. Menurut Muladi, angka tersebut masih berada dalam rentang aman yaitu 2,5 plus minus 1.
“Pemicu utama inflasi makanan adalah daging ayam ras, sedangkan untuk non-makanan disebabkan oleh kenaikan harga emas,” tambahnya.
Muladi menerangkan, data tersebut diperoleh dari survei Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dilakukan secara berkala. Survei mencakup tiga pasar tradisional dan tiga pasar modern di wilayah Kota Tangerang.
“Kami melakukan survei di Pasar Anyar, Tanah Tinggi, dan Ciledug. Dari situ terlihat harga ayam ras menjadi penyumbang inflasi tertinggi pada bulan September,” ujarnya.
Berdasarkan hasil survei, inflasi daging ayam ras tercatat naik sebesar 4,48 persen. Selain ayam ras, terdapat sembilan komoditas lain yang turut mendorong inflasi bulanan di Kota Tangerang, seperti rokok kretek tangan, cabai merah, nasi lauk pauk, dan air kemasan.
“Itu dihitung dari 1 September sampai 30 September. Jadi datanya cukup valid untuk menggambarkan kondisi harga komoditas,” kata Muladi.
BPS menilai bahwa secara umum inflasi di Kota Tangerang masih terkendali dalam tiga bulan terakhir. Pada Juli inflasi year-on-year tercatat 2,03 persen, Agustus 1,78 persen, dan September 1,96 persen.
“Selama tiga bulan terakhir Kota Tangerang dalam kondisi aman, dan TPID bekerja dengan baik menahan laju inflasi,” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, BPS secara rutin memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Tangerang dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Salah satu langkahnya adalah memperkuat distribusi bahan pokok serta operasi pasar.
“Kami selalu memberikan 20 komoditas prioritas untuk dikendalikan harganya. Untuk ayam masih bisa diintervensi, tapi emas tidak karena itu mengikuti pasar global,” terangnya.
Selain inflasi, BPS juga mencatat Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Tangerang mengalami peningkatan dari 5,02 persen di triwulan pertama menjadi 5,2 persen di triwulan kedua 2025. Sektor tersier seperti transportasi, pergudangan, dan jasa menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan.
“Sektor tersier memberi kontribusi tertinggi. Namun sektor sekunder seperti industri pengolahan tumbuh lebih cepat, sementara sektor primer pertanian mengalami kontraksi karena Kota Tangerang bukan wilayah agraris,” jelas Muladi.
Dari sisi sosial ekonomi, tingkat kemiskinan di Kota Tangerang juga mengalami penurunan. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, persentase penduduk miskin turun dari 5,40 persen menjadi 5,19 persen.
“Artinya ada penurunan sekitar 0,24 persen dibanding tahun lalu. Ini menunjukkan kesejahteraan masyarakat meningkat,” ungkapnya.
Penulis : Dony
Editor : Sakhiy
