BISNISTANGERANG.COM — Kesempatan bekerja di luar negeri bagi warga Kota Tangerang kian terbuka. Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tangerang tengah menjajaki peluang baru dengan membuka akses penempatan tenaga kerja ke kawasan Eropa, melengkapi pasar kerja yang selama ini didominasi negara Asia.
Kepala Disnaker Kota Tangerang, Ujang Hendra, mengungkapkan pihaknya segera bertolak untuk berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) guna membahas rencana tersebut.
“Ya, ini kayaknya sekarang saya mau berangkat untuk bertemu dengan Dirjen Binalavotas, membahas pembukaan lowongan kerja ke Eropa. Jadi kita tidak hanya di Asia, kita ingin juga ke Eropa,” ujar Ujang.
Menurutnya, negara tujuan yang sedang dijajaki meliputi kawasan Eropa Barat hingga Eropa Timur, dengan beragam sektor pekerjaan yang tersedia. Meski tingkat upah di Eropa Timur relatif lebih rendah dibanding Eropa Barat, peluang kerja tetap terbuka luas.
“Bidangnya mulai dari konstruksi, pabrik, hospitality, hingga kesehatan. Memang banyak juga tenaga kerja dari Eropa Timur yang bekerja di Eropa Barat,” jelasnya.
Cara Daftar dan Akses Informasi
Ujang menegaskan, masyarakat yang berminat bekerja ke luar negeri nantinya dapat mengakses informasi resmi melalui kanal media sosial Disnaker Kota Tangerang.
“Untuk pendaftaran, masyarakat bisa mengikuti informasi melalui Instagram atau media sosial Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang,” katanya.
Fokus Pelatihan, Jepang Masih Jadi Tujuan Utama
Selain membuka peluang ke Eropa, Pemkot Tangerang juga terus memperkuat program penempatan tenaga kerja ke Jepang. Salah satunya melalui pelatihan bahasa bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Ujang menyebutkan, hingga saat ini sebanyak 300 siswa dari 18 SMK telah mengikuti kursus bahasa Jepang sebagai bagian dari persiapan kerja ke luar negeri.
“Total ada 63 sekolah yang sudah melakukan kerja sama (MoU). Target kami tahun ini sekitar 1.000 peserta mengikuti pelatihan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebutuhan tenaga kerja di Jepang diperkirakan mencapai hingga 3 juta orang pada 2032. Sektor yang terbuka meliputi ground handling bandara, industri, kesehatan, hingga hospitality. Selain Jepang, peluang kerja juga tersedia di Turki, khususnya sektor hospitality.
Tantangan Utama: Bahasa dan Sertifikasi
Meski peluang terbuka luas, Ujang mengakui terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi calon pekerja migran, terutama kemampuan bahasa dan proses sertifikasi.
“Kendalanya adalah bahasa. Untuk ke Jepang, pelatihan biasanya sekitar enam bulan. Setelah itu ada pemberkasan dan ujian SSW (Specified Skilled Worker), termasuk sertifikasi dari Foundation Jepang,” jelasnya.
Ia menambahkan, keseluruhan proses dari pelatihan hingga pemberangkatan bisa memakan waktu antara enam bulan hingga satu tahun, tergantung kesiapan peserta.
Dengan perluasan akses ke Eropa serta penguatan program ke Asia, Pemkot Tangerang berharap semakin banyak warga yang dapat mengakses peluang kerja global sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal.
Editor : Red

