BISNISTANGERANG.COM — Asosiasi Logistik Digital Ekonomi Indonesia (ALDEI) menegaskan komitmennya untuk mendorong konsolidasi industri pos dan logistik nasional guna menciptakan efisiensi biaya distribusi yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua Umum ALDEI, Imam Sedayu Pusponegoro, dalam agenda Digital Ecosystem Alignment (DEAL) yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, di Tribrata Convention Center, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Deklarasi tersebut turut didukung sejumlah perusahaan besar di sektor pos dan logistik, seperti Pos Indonesia, SiCepat, AnterAja, SAPX, JNE, Lion Parcel, serta Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo).
Menurut ALDEI, perkembangan ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada 2026, sektor ekonomi digital diperkirakan menyumbang sekitar 10 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan berpotensi menjadi yang terbesar di Asia Tenggara pada 2030 dengan nilai lebih dari 300 miliar dolar AS.
Sektor e-commerce dan belanja daring menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 77 persen dari total ekonomi digital. Aktivitas tersebut turut menggerakkan lebih dari 30 juta UMKM, UKM, merek, dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Meski demikian, tingginya biaya logistik masih menjadi tantangan utama. Saat ini biaya logistik Indonesia mencapai sekitar 14 persen, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara maju. Selain itu, terdapat kesenjangan biaya yang cukup lebar antara Pulau Jawa yang berada di kisaran 5–10 persen dan wilayah luar Jawa yang mencapai 20–40 persen. Distribusi barang nasional juga masih didominasi Pulau Jawa dengan porsi lebih dari 60 persen.
Imam menilai konsolidasi menjadi langkah strategis untuk mengatasi persoalan tersebut. Menurutnya, perusahaan pos dan kurir dapat berbagi infrastruktur serta jaringan distribusi, mulai dari gudang hingga layanan pengiriman first mile, middle mile, dan last mile yang saat ini tingkat pemanfaatannya masih di bawah 50 persen.

“Melalui konsolidasi, utilisasi aset dan volume pengiriman dapat meningkat sehingga biaya operasional bisa ditekan dan layanan menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Selain meningkatkan efisiensi, konsolidasi juga diyakini mampu memperluas layanan ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), memperkuat daya saing perusahaan logistik dalam negeri, serta membuka peluang pemanfaatan teknologi bersama seperti kecerdasan buatan (AI) dan robotika untuk perencanaan kapasitas, optimasi rute, dan otomatisasi proses bisnis.
ALDEI mencatat volume pengiriman nasional saat ini telah mencapai sekitar 25 juta paket per hari yang sebagian besar berasal dari aktivitas e-commerce dan social commerce. Kondisi tersebut menjadikan digitalisasi sebagai kebutuhan utama bagi industri logistik agar seluruh pelaku usaha dapat terhubung secara terintegrasi dan mampu memberikan layanan yang lebih efektif kepada masyarakat.
Skema konsolidasi yang ditawarkan mencakup pemanfaatan bersama jaringan dan infrastruktur operasional, integrasi teknologi dan platform digital seperti sistem pelacakan paket (track and trace) hingga platform agregator logistik, serta peluang merger dan akuisisi sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyambut positif langkah yang diinisiasi ALDEI bersama para pelaku industri. Ia menilai penguatan ekosistem digital dan konektivitas yang inklusif menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional yang berkelanjutan.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan seperti perbedaan standar operasional, persaingan usaha, ego sektoral, hingga regulasi yang belum sepenuhnya selaras, ALDEI optimistis konsolidasi dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk membangun industri logistik nasional yang lebih kompetitif dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Editor : Red

