BISNISTANGERANG.COM — Maskapai penerbangan menyoroti meningkatnya insiden bird strike atau tabrakan antara burung dan pesawat yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Kejadian tersebut disebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
CEO Lion Air Group, Capt Daniel Putut, menegaskan bahwa persoalan keselamatan penerbangan harus menjadi perhatian bersama seluruh pemangku kepentingan di sektor aviasi. Ia menyebut semua pihak harus aktif melakukan mitigasi agar risiko tidak berkembang menjadi insiden yang lebih serius.
“Yang pertama kita bicara keselamatan semua stakeholder penerbangan termasuk regulator atau outority harus ikut aktif sama-sama memitigasi. Data sudah menunjukan bahwa trend di semua maskapai bukan hanya di lion grup saja. Ini potensi kerugian maskapai, tapi yang paling parah adalah jangan sampai terjadi suatu fatal, eccident,” ujarnya pada Jumat, 6 Maret 2026.
Kekhawatiran terhadap bird strike muncul di tengah persiapan transportasi udara menghadapi arus mudik Lebaran 2026. Data statistik Lion Air Group mencatat pada 2024 terdapat 20 kejadian bird strike.
Namun pada 2025 jumlah tersebut meningkat sekitar 80 persen menjadi 45 kejadian. Peningkatan ini dinilai berpotensi mengganggu keamanan serta kenyamanan penerbangan.
Salah satu contoh insiden terjadi pada penerbangan Batik Air rute Yogyakarta menuju Jakarta. Saat proses pendaratan, pesawat diduga terkena tabrakan burung pada bagian mesin.
Akibatnya, pesawat harus menjalani pemeriksaan menyeluruh sehingga menyebabkan penundaan penerbangan cukup lama. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi pesawat tetap aman sebelum kembali dioperasikan.
Kasus serupa juga dialami pesawat Airbus A320 rute Kuala Lumpur menuju Jakarta. Setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, ditemukan bekas bulu dan bercak darah pada bagian mesin pesawat.
Diduga meningkatnya kejadian bird strike berkaitan dengan keberadaan habitat burung di sekitar area bandara. Selain itu, musim migrasi burung saat masa pancaroba juga disebut menjadi salah satu faktor penyebab.
“Jangan sampai kejadian di 2007 dan sebelumnya terulang kembali. Ini yang menyebabkan kita di ban, diturunkan kategorinya jadi 2. Maka dikeluarkan safety management system yang harus dimiliki oleh semua,” kata Daniel.
“Maka, kita mengajak teman-teman stakeholder bukan hanya maskapai, tapi juga airport dan airnevigasi karena risikonya mulai dari kerusakan yang ringan dan fatal. Bahwa safety harus di atas segala-galanya,” lanjutnya.
Ia juga berharap pengelola bandara memiliki direktur khusus yang menangani keselamatan terkait bird strike. Hal ini dinilai penting agar koordinasi antarinstansi dapat berjalan lebih efektif.
“Kalau airland dan airnav punya Direktur Safety dari birdstrike. kita mengharapkan Angkasapura pun memilikinya supaya kita bicara disatu level dan bahasa yang sama yaitu keselamatan penerbangan,” tambahnya.
Di sisi lain, permintaan tiket pesawat untuk arus mudik Lebaran 2026 mulai meningkat. Lion Air Group mencatat tiket penerbangan pada periode H-4 hingga H-2 Lebaran sudah banyak yang terjual habis.
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, maskapai saat ini tengah mengajukan penambahan jadwal penerbangan atau extra flight. Langkah ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik melalui jalur udara.
Editor : Red

