Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBD Gelar Gala Premiere Film UAS Kokom Insight 2026

Headline Nasional

BISNISTANGERANG.COM — Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Buddhi Dharma (UBD) menggelar Gala Premiere pada mata kuliah film sinematografi Senin, 12 Januari 2026. Kegiatan ini menampilkan karya mahasiswa semester 7 sebagai bagian dari tugas Ujian Akhir Semester (UAS) yang diampu oleh Dosen Ilmu Komunikasi, Alfian Pratama, S.Sos., M.I.Kom.

Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Kokom Insight 2026 yang menjadi ruang apresiasi karya mahasiswa. Film-film yang ditayangkan merepresentasikan hasil pembelajaran di bidang produksi audiovisual.

Ketua Pelaksana Kokom Insight, Zulham Raynaldo, menyebut Gala Premiere sebagai puncak dari rangkaian kegiatan. Ia menilai karya yang ditampilkan menunjukkan perkembangan kreativitas mahasiswa.

“Gala Premiere ini menampilkan hasil karya film dan sinematografi mahasiswa semester 7 sebagai bagian dari tugas UAS Ilmu Komunikasi. Matkul ini diampu langsung oleh Bapak Alfian Pratama,” ujar Zulham Raynaldo.

Film-film yang ditayangkan mengangkat berbagai isu sosial dan realitas kehidupan sehari-hari. Tema tersebut dikemas dengan pendekatan sinematografi yang matang.

Zulham menambahkan bahwa penilaian karya tidak hanya berfokus pada hasil akhir film. Proses produksi, mulai dari penulisan naskah hingga penyuntingan, juga menjadi bagian penting dari penilaian.

“Kegiatan ini menjadi ajang pembuktian kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan teori komunikasi dan praktik produksi film,” katanya.

Salah satu film yang ditayangkan berjudul Bunga Kuburan yang mengangkat isu kesenjangan sosial dan sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan. Film ini menyoroti realitas pekerja migran yang terjebak dalam pekerjaan ilegal di luar negeri.

Asisten Sutradara film ‘Bunga Kuburan’, Reynandi Khoe, menjelaskan garis besar cerita film tersebut. Ia menyebut kisah pasangan suami istri yang merantau demi keluar dari himpitan ekonomi.

“Jadi kalau di film yang pertama, Bunga Kuburan, garis besarnya itu lebih ke kesenjangan sosial yang di mana susahnya mencari lapangan pekerjaan di Indonesia. Dan akhirnya si keluarga tersebut, suami istri, mendapatkan pekerjaan di luar negeri tanpa mengetahui bahwa mereka akan bekerja sebagai admin judi online,” ujar Reynandi.

Demi keluar dari himpitan ekonomi di Indonesia, pasangan suami istri tersebut memutuskan merantau ke Kamboja dengan janji gaji tinggi. Namun, mereka tidak mengetahui bahwa pekerjaan tersebut merupakan bagian dari jaringan judi online.

“Akhirnya mereka terjebak dalam sistem kerja yang keras dan berisiko tinggi. Sementara itu, anak semata wayang mereka dan ibu yang sudah tua harus ditinggalkan di Indonesia,” kata Reynandi.

“Kehidupan di Kamboja tidak berjalan sesuai harapan karena adanya tekanan, sindikat, dan ancaman. Meski demikian, mereka tetap bertahan demi mengirimkan nafkah kepada keluarga di Indonesia,” tambah Reynandi Khoe.

Film lainnya yang turut ditayangkan berjudul ‘Fragile’ yang mengangkat tema perjuangan ekonomi dan penerimaan dalam keluarga. Cerita ini berfokus pada dinamika rumah tangga dengan latar keterbatasan fisik.

Sutradara film Fragile, Dominicus Cavell, menjelaskan konflik batin yang dialami tokoh utama dalam film tersebut. Film ini menampilkan perbedaan pandangan antara suami dan istri dalam peran mencari nafkah.

“Fragile menceritakan tentang pasangan suami istri, di mana suaminya memiliki disabilitas fisik dan istrinya menjadi tulang punggung keluarga. Sang istri bekerja keras demi menghidupi keluarga kecilnya,” jelas Domi

“Karena merasa tidak enak hanya diam di rumah, sang suami memilih bekerja sebagai Pak Ogah di pertigaan jalan. Hal ini memicu konflik karena sang istri tidak menginginkan suaminya bekerja dalam kondisi tersebut,” katanya.

Film ini menyampaikan pesan bahwa dalam keluarga, setiap anggota perlu berdamai dengan kekurangan masing-masing. Pada akhirnya, suami istri tersebut saling memahami dan berdamai.

“Film Fragile menyampaikan pesan tentang pentingnya empati, penerimaan, dan berdamai dengan keterbatasan dalam keluarga. Pesan tersebut menjadi refleksi kehidupan rumah tangga sehari-hari,” pungkas Domi.

Kegiatan Gala Premiere ini menjadi ajang eksestensi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UBD dalam dunia komunikasi berbentuk penyajian sinematografi. Ke depan, mereka berharap bisa memajukan karya yang berdampak bagi penikmat film ataupun semua kalangan.

Editor : Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *