BISNISTANGERANG.COM — Para pedagang yang direlokasi ke dalam Pasar Anyar pada Kamis, 11 Desember 2025 mulai menyampaikan sejumlah keluhan. Beberapa Pedagang menilai kondisi berjualan di dalam area pasar tidak sebaik saat berada di luar. Salah satu pedagang ikan, Bapak Pranoto, mengungkapkan bahwa perpindahan lokasi membawa tantangan baru bagi usahanya.
Pranoto menjelaskan bahwa jumlah pengunjung di dalam pasar jauh lebih sedikit dibandingkan area luar. Ia merasa aktivitas jual beli lebih sulit karena arus pengunjung tidak seramai sebelumnya. Situasi ini membuatnya harus bekerja lebih keras dalam menarik pelanggan.
“Alasannya kalau di dalam, pengunjungnya kurang bang. Di luar aja. Di sini aja bilang ke sini, enggak tahu besoknya pengunjungnya. Masih teriak-teriak sini, sini, sini gitu,” ujarnya pada Jumat, 12 Desember 2025.
Ia menyebut bahwa berjualan di area luar memberikan kemudahan dalam menjangkau pembeli yang melintas. Menurutnya, posisi yang terbuka memudahkan pedagang untuk memanggil pelanggan secara langsung. Hal tersebut berbeda dengan kondisi di dalam pasar.
“Kalau di sini sih mending, kata pengunjungnya lewat sini, bang. Jadi masih bisa manggil. Kalau di sono kan susah manggilnya, bang. Kita masih nengok-nengok terus,” jelasnya.
Ketika ditanya soal kesediaannya mengikuti relokasi, Pranoto mengaku tidak memiliki banyak pilihan. Menurutnya, ketentuan dari pengelola pasar harus tetap diikuti meski tidak sepenuhnya sesuai harapannya. Ia menilai keputusan tersebut bersifat memaksa bagi pedagang.
“Ya, setuju enggak setuju kalau yang ngatur pihak PD Pasarnya ya mau enggak mau ngikutin,” katanya.
Pranoto menambahkan bahwa masih ada kendala lain terkait relokasi ini. Ia menyebut area baru belum sepenuhnya terisi oleh pedagang, sehingga suasana tampak sepi. Kondisi tersebut semakin memperkuat kekhawatirannya terkait potensi penurunan omzet.
“Tuh, Bang, yang di ini cuma dua orang,” ungkapnya.
Selain itu, ia menyoroti alasan pembeli yang enggan masuk ke dalam pasar. Pembeli disebut harus memarkir kendaraan dan membayar retribusi, sehingga banyak yang lebih memilih berbelanja di area luar. Situasi tersebut membuat pedagang merasa kurang diuntungkan.
“Emang kalau pembeli disuruh masuk alasannya ada tempat parkir bayar, itu kalau di kaki lima kan mendingan, turun dari motor bisa langsung beli ini dan itu gitu bisa,” tuturnya.
Soal fasilitas, Pranoto mengatakan bahwa air masih tersedia di lokasi berjualan luar. Namun ia belum mendapatkan kejelasan terkait penyediaan air di area dalam pasar. Fasilitas dasar seperti ini menurutnya sangat penting bagi pedagang.
“Air? Kalau air ada disiapin,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa jika dipindah ke dalam, kemungkinan pedagang harus mengambil air dari toilet pasar. Hal itu berbeda dengan kondisi saat ini, di mana air tersedia lebih dekat dan mudah digunakan. Menurutnya, hal tersebut akan menjadi tambahan beban bagi pedagang.
“Kalau di dalam ya makanya ini belum ada ketentuan. Paling ngambil ke WC, ke toilet situ, Pak. Kalau di sini kan siapin air ini,” tambahnya.
Pranoto berharap pemerintah dan pengelola pasar dapat mempertimbangkan kondisi para PKL secara lebih mendalam. Ia menilai relokasi harus memastikan pedagang tetap dapat menjalankan usaha tanpa hambatan besar. Menurutnya, kenyamanan pedagang dan pembeli adalah kunci keberhasilan penataan pasar.
Di akhir pembicaraan, Pranoto berharap relokasi ini tidak membuat usahanya kehilangan pelanggan dan dapat terus berjalan dengan baik.
Editor : Red
