BISNISTANGERANG.COM – Satu lagi produk usaha kecil menengah (UKM) asal Kota Tangerang tengah tumbuh pesat. Berdiri sejak 2019, brand IBU JODHA Food ikut meramaikan bisnis makanan di Tanah Air lewat inovasi kerupuk berbahan kulit dan duri ikan barakuda yang unik dan belum banyak ditemui di pasaran.
Di balik brand ini ada sosok Nurjanah, sang owner, yang merintis usahanya dari skala rumahan. Kini produknya sudah dipasarkan di sejumlah pusat perbelanjaan besar.
Berawal dari Cilok, Demi Anak yang Menganggur
Perjalanan IBU JODHA Food dimulai pada 20 Agustus 2019 dengan nama awal Cilok Ibu Jodha. Motivasi Nurjanah mendirikan usaha ini sederhana namun mulia: menyediakan lapangan usaha bagi anaknya yang saat itu sedang menganggur karena baru saja resign dari pekerjaan.
Pada masa awal, ia menjual cilok jumbo, cilok isi kuah, baso aci, batagor, dan siomay goreng ikan. Produk-produk tersebut dipasarkan lewat outlet di rumah, teras Indomaret Purati, area depan kolam renang Amsterdam Tomang, serta layanan GrabFood.
Inovasi dari Sisa Produksi Batagor
Titik penting terjadi pada Juli 2025. Nurjanah mengembangkan usahanya dengan memproduksi kerupuk dari sisa produksi batagor, yakni kerupuk kulit dan duri ikan barakuda, di bawah brand IBU JODHA Food.
Kerupuk ini tersedia dalam dua pilihan bahan, yaitu ikan barakuda dan kuniran. Masing-masing hadir dalam tiga varian rasa, yakni original, pedas gurih, dan pedas balado. Saat ini, proses produksi dilakukan di Pondok Alam Permai (Purati) C1/82, Kelurahan Alamjaya, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang.
Sudah Tersedia di Transmart hingga Toko Oleh-Oleh Bandara
Meski tergolong baru, jangkauan pemasaran kerupuk ini terus meluas. Produk IBU JODHA Food kini dapat ditemukan di Transmart, Aeon, Pasar Pagi Mangga Dua, toko oleh-oleh bandara, serta Indogrosir Cikokol dan Jatiuwung.
Dalam waktu dekat, kerupuk ini juga akan hadir di 50 toko Indomaret di wilayah Kota Tangerang. Selain itu, produk ini juga menerima pesanan dari dinas dan sejumlah instansi.
Untuk harga, produk dibanderol pada kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000. Omzet tertinggi yang pernah dicapai sejauh ini adalah Rp9 juta dalam satu bulan.
Aktif Ikuti Bazar dan Pameran
Untuk memperkenalkan produknya, Nurjanah rutin mengikuti berbagai kegiatan. Ia pernah ambil bagian dalam bazar di acara dinas seperti Fescis dan Great Sale, bazar di sejumlah hotel bersama komunitas, serta pameran di Jakarta Expo di mal Kelapa Gading. Yang terbaru, ia tampil di Pangan Nusa Expo 2026 di ICE BSD.
Unik dan Enak, Belum Ada Pesaing Langsung
Saat ditanya alasan masyarakat perlu mencoba produknya, Nurjanah menjawab singkat: unik dan enak. Menurutnya, jenis kerupuk di pasaran sudah sangat beragam, tetapi belum ada kerupuk yang terbuat dari kulit dan duri ikan barakuda maupun kuniran.
Target: Rajai Pasar Domestik, Lalu Ekspor ke Arab Saudi
Ke depan, Nurjanah menargetkan IBU JODHA Food bisa menguasai pasar domestik. Dalam satu hingga dua tahun mendatang, ia juga berharap produknya dapat menembus pasar ekspor ke Arab Saudi.
Kiat Membangun Usaha dari Nol
Bagi pelaku usaha yang baru memulai, Nurjanah punya sejumlah pesan. Pertama, jangan terlalu terpaku pada modal. Kedua, manfaatkan bahan sisa produksi agar bisa diolah menjadi produk yang menghasilkan cuan. Ketiga, ikuti setiap pelatihan gratis yang difasilitasi dinas, provinsi, komunitas, maupun kementerian. Menurutnya, ilmu bisnis yang terus bertambah akan membuat pelaku usaha tidak tertinggal dan bisa menjadi UMKM yang naik kelas.
Kisah IBU JODHA Food membuktikan bahwa kreativitas dan kemauan belajar dapat mengubah limbah produksi menjadi produk bernilai jual tinggi.
Editor : Red

