BISNISTANGERANG.COM — Perkembangan industri perfilman di wilayah Tangerang Raya dinilai mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut didukung oleh keberadaan institusi pendidikan, berkembangnya ekosistem ekonomi kreatif, hingga munculnya pelaku usaha penunjang industri film dan animasi.
Muhammad Cahya Mulya Daulay, S.Sn., M.Ds., Dekan Fakultas Seni dan Desain, mengatakan perkembangan perfilman di Tangerang tidak hanya terlihat di tingkat perguruan tinggi, tetapi juga mulai tumbuh di sekolah menengah kejuruan yang membuka jurusan animasi maupun videografi.
“Di Tangerang secara umum meningkat ya, karena sekarang sudah ada SMKN-SMKN yang juga mengajarkan animasi atau videografi. Bahkan dosen-dosen kami juga terlibat untuk mengajar guru maupun siswanya,” ujar Cahya saat diwawancarai baru-baru ini.
Menurutnya, pembentukan Kementerian Ekonomi Kreatif turut memberikan dampak positif terhadap perkembangan sektor film dan animasi sebagai bagian dari industri kreatif nasional. Dukungan tersebut dinilai mampu mendorong lahirnya talenta-talenta baru di bidang perfilman.
Ia menjelaskan, pendekatan pendidikan yang diterapkan di lingkungan akademik tidak hanya berfokus pada aspek teknis produksi film, tetapi juga membangun pemahaman mahasiswa terhadap keseluruhan ekosistem industri kreatif.
“Mahasiswa tidak cuma tahu soal produksi atau mewujudkan ide, tapi juga memahami ekosistem lainnya. Film itu bukan sekadar produksi saja, ada marketing, katering, sampai penyewaan alat,” katanya.
Cahya menambahkan, sejumlah peralatan produksi film yang digunakan dalam proses pembelajaran juga melibatkan kerja sama dengan alumni yang telah memiliki usaha penyewaan alat di Tangerang. Hal itu menunjukkan bahwa ekosistem perfilman di daerah tersebut mulai terbentuk secara berkelanjutan.
“Jadi saya bisa bilang ekosistemnya berkembang dan menarik untuk melihat bagaimana film di Tangerang dan sekitarnya terus tumbuh,” ucapnya.
Terkait genre film yang diminati publik, Cahya menyebut horor dan komedi masih menjadi pilihan utama masyarakat. Namun di lingkungan akademik, mahasiswa lebih banyak diarahkan untuk mengembangkan ide-ide yang bersifat personal dan dekat dengan pengalaman sosial mereka.
“Sebenarnya genre tetap horor dan komedi. Tapi di akademik pendekatannya lebih ke ide dan subjektivitas. Mereka mencoba mendramatisasi pengalaman atau keresahan yang dirasakan menjadi sebuah karya film,” jelasnya.
Ia mencontohkan sejumlah karya mahasiswa yang mengangkat konflik identitas budaya, standar kecantikan, hingga persoalan adat dan tradisi sebagai bahan cerita dalam film maupun animasi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga menjadi tantangan baru bagi para filmmaker. Meski demikian, Cahya menilai AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses kreatif selama tetap digunakan secara bijak dan memperhatikan etika.
“Kalau bicara AI dalam konteks kreatif, kami melihatnya sebagai tools. Kami tidak melarang, tapi mengenalkan bagaimana mahasiswa bisa punya strategi dalam menggunakan AI,” katanya.
Menurut dia, penggunaan AI saat ini lebih banyak dimanfaatkan pada tahap pra-produksi, seperti membuat contoh visual atau pengembangan konsep awal. Sementara dalam proses produksi, mahasiswa tetap didorong untuk mengerjakan karya secara langsung atau hands-on.
“Kalau animasi tetap harus bikin model dan gambar sendiri. Untuk syuting juga tetap menggunakan kamera. Jadi motor utamanya tetap manusia dan ide kreatifnya berasal dari manusianya,” pungkasnya.
Editor : Red

