UMKM Kota Tangerang Olah Bambu dan Limbah Fashion, Produk Tembus 12 Negara

Malaika Creatio Olah Bambu dan Limbah Fashion, Produk Tembus 12 Negara

Ekonomi Headline

BISNISTANGERANG.COM — Kreativitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Tangerang mulai mendapat tempat di pasar global. Salah satunya Malaika Creatio, UMKM asal Karang Tengah yang mengembangkan produk kerajinan berbahan bambu dan anyaman pandan atau complong dengan memanfaatkan limbah fashion. Tangerang, Selasa 11 Agustus 2026.

Malaika Creatio berdiri sejak 2022 dan aktif mengikuti berbagai pameran berskala nasional, termasuk Trade Expo Indonesia pada 2022 hingga 2024 serta Inacraft. Dari aktivitas tersebut, produknya kini telah dipasarkan ke sejumlah negara.

Pemilik Malaika Creatio, Malaika, mengatakan produk yang dikembangkan telah memiliki pasar bisnis-ke-bisnis (B2B) dengan perusahaan asal Belanda. Sementara melalui skema bisnis-ke-konsumen (B2C), produknya telah menjangkau konsumen di 12 negara hingga 2025.

“Di tahun 2025, kami sudah sampai dengan 12 negara,” kata Malaika.

Produk Malaika Creatio bahkan pernah dibawa Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum sebagai suvenir dalam pertemuan BRICS di Brasil. Produk serupa juga dibawa dalam sejumlah pertemuan internasional di China, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand.

Keunikan produk tersebut terletak pada perpaduan bahan alam dengan material bekas. Bambu dan complong menjadi bahan utama, kemudian dikombinasikan dengan limbah fashion seperti celana jeans bekas.

Malaika mengatakan bahan jeans diperoleh dari pembeli, tetangga, teman, hingga hasil kerja sama dengan pelaku UMKM lainnya.

Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Malaika Creatio mendorong praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.

“Concern kami adalah terhadap lingkungan, bagaimana kita sebagai UMKM harus bisa menjaga keseimbangan alam,” ujarnya.

Tak hanya memanfaatkan limbah fashion, Malaika Creazio juga menggandeng UMKM batik asal Tangerang. Material batik tersebut dikolaborasikan dengan produk anyaman sehingga menghasilkan produk yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas produk lokal Tangerang ke pasar internasional.

Produk yang dihasilkan antara lain mug bambu, tumbler bambu, complong yang dipasok ke Bali, complong berbahan jeans bekas, serta complong berbahan batik.

Untuk harga, mug bambu dipasarkan sekitar Rp150 ribu, tumbler bambu Rp200 ribu, sedangkan complong yang dipasok ke Bali sekitar Rp200 ribu. Adapun produk complong yang dipadukan dengan jeans bekas dapat mencapai harga Rp500 ribu.

Keunikan lainnya terdapat pada teknik pengerjaan. Malaika Creatio masih mempertahankan teknik jahit tangan menggunakan jarum berukuran besar yang dikenal sebagai “jejeck”, menyerupai teknik menjahit karung goni.

Teknik tersebut kemudian dikembangkan ke produk lain, termasuk jam dinding yang dipadukan dengan teknik decoupage.

Berbeda dengan banyak pelaku UMKM yang mengandalkan marketplace, Malaika Creatio memilih tidak memasarkan produknya melalui platform tersebut. Strategi itu dilakukan untuk menjaga keunikan produk sekaligus mengantisipasi peniruan desain atau copycat.

Penjualan dilakukan melalui pameran, bazar, jaringan sejumlah kedutaan besar di Jakarta, serta kanal digital seperti Instagram @malaikacreatio dan WhatsApp.

“Kalau di marketplace itu copycat produk sangat cepat. Jadi kami lebih kepada pameran, bazar, Instagram, maupun WhatsApp,” kata Malaika.

Meski pasar produknya telah menjangkau mancanegara, seluruh proses produksi Malaika Creatio tetap dilakukan di Kota Tangerang, tepatnya di wilayah Karang Tengah.

Kisah Malaika Creatio menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak selalu bertumpu pada teknologi tinggi. Pemanfaatan bahan lokal, pengolahan limbah, kolaborasi antarpelaku UMKM, serta penguatan desain justru dapat menjadi modal untuk membawa produk daerah masuk ke pasar global.

Editor : Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *